Nakulapita dan Nakulamata
Mereka merupakan salah satu pasangan yang paling serasi yang dikenal umat Buddhis di masa Sang Buddha. Suatu waktu Nakulapita menderita penyakit yang serius dan istrinya Nakulamata memerhatikan bahwa ia gelisah dan cemas.
Berikut adalah kata-kata indah yang diberikan sang isteri kepada suami di saat sang suami sedang menderita penyakit yang mematikan :
"Mohon tuan jangan menghadapi kematian dengan kegelisahan.
Kematian adalah sesuatu yang menyakitkan bagi seseorang yang gelisah.
Sang Buddha memandang rendah kematian dengan kegelisahan.
Mungkin anda cemas bahwa saya tidak akan mampu menyokong keluarga setelah kematian anda.
Mohon jangan berpikiran demikian.
Saya mampu memintal dan menenun, dan saya akan mampu membesarkan anak-anak jika anda tidak di dunia lagi.
Mungkin anda cemas bahwa saya akan menikah lagi setelah kematian anda.
Mohon jangan berpikir demikian.
Kita berdua menjalani kehidupan suci menurut peraturan mulia perumah tangga.
Maka jangan cemaskan hal ini.
Mungkin anda cemas bahwa saya akan melalaikan perhatian pada Buddha dan Sangha.
Mohon jangan berpikir demikian.
Saya akan lebih setia pada Buddha dan Sangha setelah kematian anda.
Mungkin anda cemas bahwa saya akan mengabaikan pedoman-pedoman perilaku.
Mohon jangan mempunyai keraguan apapun tentang hal ini.
Saya adalah salah satu dari mereka yang sepenuhnya berpraktek pada kebiasaan-kebiasaan moral yang dibuat untuk orang awam dan jika anda ingin,
mohon tanyalah pada Sang Buddha tentang hal ini.
Mungkin anda takut saya belum mencapai ketenangan batin.
Mohon jangan berpikir demikian.
Saya adalah salah satu dari mereka yang telah mendapat ketenangan batin sebanyak yang dapat dicapai oleh seorang perumah tangga.
Jika anda mempunyai keraguan tentang hal ini, Sang Buddha sedang di Bhesakalavana, tanyalah kepada Beliau.
Mungkin anda berpikir bahwa saya belum mencapai kemahiran dalam pembebasan sesuai Ajaran Sang Buddha,
bahwa saya belum bebas dari keraguan dan kebingungan tanpa bergantung pada yang lain.
Jika anda ingin kejelasan tentang hal ini, tanyalah pada Sang Buddha.
Tetapi mohon jangan menghadapi kematian dengan kecemasan,
karena hal itu adalah sangat menyakitkan dan dilarang oleh Sang Buddha."
Itulah kisah umat awam pada zaman sang Buddha yang terkenal akam kesetiaan dan kepiawaian dalam bertutur kata indah. Semoga bisa menjadi inspirasi kita semua.
Salam Metta,
Catherine Stevenson